Minggu, 13 Mei 2018

Pengertian dan Konsep Inteligens || Character Building IQ (intelegens)


PEMBAHASAN

A.           Pengertian dan Konsep Inteligens
Istilah IQ sendiri merupakan singkatan dari Intelligence Quotient yang berarti indikasi kecerdasan intelektual, kemampuan menganalisis suatu objek atau logika seseorang. IQ biasa dipergunakan untuk menjelaskan tingkatan kemampuan otak kiri seseorang. Sering kali, IQ dijadikan indikator untuk mengukur kemampuan berfikir, berkomunikais, mengetahui, memahami, menganalisis, menentukan, dan menjelaskna sesuatu yang dimiliki oleh seseorang. Karena itulah IQ memiliki keterkaitan dengan keterampilan berbicara, kesadaran akan sesuatu di sekelilingnya, penguasaan ilmu eksak, atau kemampuan-kemampuan otak kiri lainnya.
Inteligensi berasal dari kata latin “intellegere” yang berarti menghubungkan atau menyatukan satusama lain, pengertian inteligensi memberikan bermacam-macam arti bagi para ahli. Inteligensi merupakan daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan mempergunakan alat-alat berfikir menurut tujuannya (kamus pedagogic, 1953). Di sini dapat dilihat bahwa Stren menitik beratkan kepada soal adjustment  terhadap masalah yang dihadapinya.
Orang yang dianggap inteligen bila responnya merupakan respon yang baik terhadap stimulus yang diterimanya. Untuk memberikan respon yang tepat, organisme harus memiliki lebih banyak hubungan stimulus dan respons, dan hal tersebut dapat diperoleh dari hasil pengalaman yang diperolehnya dan hasil respon-respon yang telah lalu. Penelitian yan dilalukan oleh psikolog Howard Gardner dan rekan-rekannya di Harvard University telah menunjukkan bahwa setiap anak memiliki banyak cara berbeda untuk menjadi pandai, yaitu dengan cara melalui kata-kata, angka, gambar, music, ekspresu fisik, pengalaman dengan alam, interaksi sosial, dan pemahaman diri sendiri.
Inteligensi itu sendiri didefinisikan oleh David Wechsler (1958)  “keseluruhan kemampuan individu untuk berfikir dan bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif”. Banyak ahli yang mengemukakan tetang inteligensi, seperti Binet, Wehster, Terman, Thuston, Plaget dan sebagainya. Masing-masing mengajukan pemikiran atau konsep yang berbeda. Namun kalau dicermati secara prinsipnya memiliki kesamaan. Misalknya saja Thornburg (1982) inteligensi mengandung 4  unsur pengertian yakni:
1.             Kemampuan berfikir abstrak dan cermat.
2.             Kemampuan untuk mengambil suatu keputusan, memahami suatu masalah, secara menyeluruh, teori yang rumit, serta mengetahui sebab akibat suatu fenomena yang ditemui dalam kehidupannya.
3.             Kemampuan untuk melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungan hidupnya.
4.             Seluruh kemampuan individu untuk melakukan suatu aktivitas guna menambangkan potensi dirinya.
Jadi inteligensi memang mengandung ratio atau unsur pikiran. Makin banyak unsur ratio yang harus digunakan dalam suatu tindakan atau tingkah laku, makin berinteligensi tingkah laku tersebut.

Macam-macam inteligensi:
1.             Kecerdasan Bahasa
Kecerdasan liguistik adalah kemampuan mengunakan kata-kata secara efektif. Pengamatan terhadap 3M (membaca, menulis dan matematika) dalam kehidupan sekolah memperlihatkan bahwa kecerdasan liguistik mencangkup sedikitnya bahwa kecerdasan liguistik mencangkup sedikitnya 2/3 bagian dari interaksi belajar-mengajar, membaca dan menulis termasuk mengeja, kosakata, dan tata bahasa.
2.             Kecerdasan Logika-matematika
Kemampuan individu untuk berfikir logika dan perhitungan matemats, yang sefatnya menggunakan kemampuan untuk menangkap, memahami dan menganalisis suatu masalah perhitungan metematis. kemampuan logika-matematika yang dimilikinya biasanya lebih menonjol dibandingkan dengan orang lain yang tidak mampu dalam bidang ini. Misalnya: pemenang nobel dibidang matematika dari AS Barbara McClintoch.
3.             Kecerdasan Spasial
Kemampuan untuk memahami, menganalisi hal-hal yang berkaitan dengan ruang 3 dimensi. Dengan kemampuan itu, individu dapat mengatur dan memecahkan masalah aspek keruangan. Aspek keruangan ini, tidak hanya berhubungan dengan masalah teknis kearsitekturan, sipil, tetapi juga masalah media ataupun seni. Orang professional (ahli) yang tergolong memiliki kemampuan ini diantaranya insinyur, teknik arsitektur, sipil, dokter bedah, pemotong/penata rambut, pelukis, pemahat/pematung, navigator. B.J Habibie adalah salah satu tokoh jenius Indonesia yang memiliki kecerdasan Spasial. Ia adalah lulusan fakultas teknik dari sebuah universitas di Jerman, yang kemudian menjadi menteri riset dan teknologi, bahkan menjadi presiden Republik Indonesia yang ke-3.
4.             Kecerdasan Musik
Kemampuan individu untuk memahami, mengerti, mengolah, mencipta atau mempertunjukkan masalah-masalah yang berhubungan dengan seni music. Dengan kemampuan ini individu mampu menganalisis kekurangan dan kelebihan suatu irama lagu, musik, nada, dan sebagainya. Orang-orang yang memiliki kecerdasan musik ini misalnya kritikus music, pemusik baik tradisional maupun modern. Hal ini dapat dilihat dari seperti : Mozart, Bethoven, Idu Marzuki.
5.             Kecerdasan Kinestetik
Kemampuan individu untuk mengenali, memahami, seluruh bagian-bagian organ tubuh serta mampu untuk mengkspesikan emosi perasaannya daam bentuk gerakan fisik untuk tujuan seni maupun kegiatan olahraga. Orang yang memiliki kecerdasan ini akan dapat menonjol prestasinya di bidang olahraga, seni tari, seni drama. Maka banyak atlet seperti Ade Ray, Susi Susanti dan masih banyak lagi. Kemampuan kinestesi ini terletak pada kortek motoric. Kerusakan pada bagian ini menyebabkan indvidu tak mampu melakukan koordinasi otot maupun organ fisik yang baik.
6.             Kecerdasan Interpesonal
Kemampuan individu yang dicirikan dengan adanya kepekaan untuk memahami perasaan orang lain, sehingga ia dengan mudah dapat menjalin relasi degan lingkungan sosialnya. Individu yang memiliki kecerdasan secara interpersonal dapat menekuni dibidang siar agama, guru/dosen, presenter, dan sebagainya. Kemampuan ini bersumber pada lobus frontal. Kerusakan di bagian ini dapat menyebabkan individu mengalami perubahan kepribadiannya, seperti ketidakmampuan untuk bergaul, menyendiri atau menarik diri dari pergaulan.
7.             Kecerdasan Intrapersonal
Kemampuan memahami diri sendiri, kecedasan mengetahui apa kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Ini juga merupakan kecerdasan untuk bisa merenungkan tujuan hidup sendiri dan untuk mempercayai diri sendiri. Kecerdasan intrapersonal adalah kecerdasan yang penting bagi wirausaha dan individu independen lain yang harus memiliki persyaratan disiplin diri, keyakinan dan pengetahuan diri untuk bisa memasuki bidang atau bisnis baru.
8.             Kecerdasan Naturalis
Melibatkan kemampuan mengenai bentuk alam sekitar kita; burung, bunga, hewan, dan fauna serta flora lain. Ini juga mencangkup terhadap bentuk aam lain, seperti susunan awan dan ciri geologis bumi. Kecerdasan ini dibutuhkan dalam banyak profesi termasuk ahli biologi, penjaga hutan, dokter hewan, dan hortikulturis. Dalam kehidupan sehari-hari kita menggunakan kecerdasan ini ketika berkebun, dan berkemah.

Menurut arah/hasilnya, kepemilikan individu terhadap kecerdasan dapat dibedakan menjadi dua:
·                Inteligensi Praktis yaitu inteligensi untuk bisa mengatasi situasi sulit dalam suatu kerja yang berlangsung secara cepat dan tepat. Contoh: anak yang naik sepeda di jalan yang ramai, ini memerlukan inteligensi praktis.
·                Inteligensi Teoritis yaitu inteligensi untuk bisa mendapatkan suatu pikiran penyelesaian masalah yang berlangsung secara cepat dan tepat. Ini berlaku dalam ilmu pengetahuan seperti ilmu alam, sosial dan teknologi.

B.            Cara Mengukur Inteligensi
Untuk menyelidiki sifat, luas dan batas inteligensi seseorang digunakan “tes inteligensi”. Pengukuran kecerdasan (IQ) lebih diarahkan kepada mengukur kecakapan berbuat, kecakapan melakukan proses, atau kecakapan dasar yang diperlukan sebagai dasar penguasaan materi atau pengetahuan. Pengukuran kecakapan nyata atau achievement lebih diarahkan kepada mengatur penguasaan pengetahuan atau materi. Pengukuran kecerdasan diusahakan benar-benar mengukur kecakapan dasar, bukan hasil belajar, bebas dari pengaruh pengalaman atau kebudayaan. Integritas Quotient atau IQ ialah angka yang mana menjelaskan tingkat kecerdasan seseorang yang dibandingkan dengan sesamanya dalam satu populasi. Definisi asli dari IQ itu sendiri adalah mengukur kecerdasan dari anak-anak. IQ adalah sebuah rasio dari umur secara mental dibagi umir secara fisik dan dikalikan dengan angka 100. Umur secara mental dihitung berdasarkan dasar dari rata-rata hasil di dalam sebuah tes yang dibagi dalam setiap kategori umur.

Ada beberapa jenis tes yang bisa digunakan untuk mengukur IQ, antara lain:
1.             Pengukuran Test Inteligensi Secara Umum. Dalam hal ini mengalami beberapa Fase, antara lain:
a.              Fase persiapan, hal ini terjadi ± sampai tahun 1915. Pada saat itu para ahli sedang berusaha untuk mendapatkan model atau bentuk yang akan digunakan untuk test inteligensi, dan usaha yang diperolehnya baru bersifat konsep. Karena itu, (konsep) belum dapat diaplikasikan ketika akan melakukan test inteligensi.
b.             Fase naif, atau pengguna test inteligensi yang sudah tersusun tanpa adanya kritikan. Fase ini terjadi ± tahun 1915 hingga ± tahun 1935, di mana para ahli berupaya untuk menggunakan hasil rancangan test inteligensi yang sudah tersusun dalam berbagai hal kehidupan, sesuai dengan lingkup yang akan dibahas dalam test tersebut. Hasil test bisa digunakan sebagai pra syarat pemilihan calong pegawai, calon militer atau calon petugas/karyawan lainnya, dan calon-calon siswa yang akan masuk sekolah ke jenjang berikutnya.
c.              Fase yang bebas dari pengaruh kebudayaan melalui bahasa, fase ini diprakarsai oleh Goodenough dan Porteus.
d.             Fase kritis atau masa sekarang, terjadi sejak tahun 1950 hingga sekarang.


2.             Tes Inteligensi Binet Tes kecerdasan ini adalah yang tertua. Disusun tahun 1905 oleh Alfred Binet, ahli psikologis Prancis. Tes Binet diperuntukkan bagi anak usia 2-15 tahun.
Rounded Rectange : IQ = MA/CA X 100

Keterangan:
a.              IQ : intelligence quotient atau kecerdasan
b.             MA : mental age atau usia mental. Diperoleh dari sekelompok pertanyaan yang dijawab betul oleh sejumlah besar individu dengan umur yang sama.
c.              CA : chronological age atau usia kalender
d.             100 : konstanta atau bilangan tetap, diusulkan oleh Stern dan Terman untuk menghindari angka pecahan dalam satuan IQ
Misal, seorang anak berusia 6 tahun diajukan 5 pertanyaan. Jika dijawab semua, lalu diajukan pertanyaan di atasnya (6, 7, 8, 9 tahun, dan seterusnya) sampai tidak ada lagi yang bisa terjawab. Tapi jika pertanyaan pertama ada yang salah, diajukan pertanyaan di bawahnya (5, 4 tahun) sampai bisa dijawab semua. Bila jawaban benar diberi tanda (●  ) dan (X) bila salah.
                         
Umur CA
Jawaban
Nilai MA
6 tahun
6
7 tahun
X
8 tahun
X
X
X
9 tahun
X
X
X
X
10 tahun
X
X
X
X
X
-
Jumlah

Maka, MA-nya = 7   CA = 6
Jadi, IQ =  7/6 x 100  = ± 123


3.             Wechsler, Tes pertama disusun tahun 1939 dan diberi nama Wechsler Belleveu Intelligence Scale disingkat WBIS, dan direvisi tahun 1955 dengan nama Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS). Tes ini diperuntukkan untuk dewasa. Untuk anak-anak, Wechsler juga mengembangkan tes sejenis yang diberi nama Wechsler Intelligence Scale for Children atau WISC, diterbitkan tahun 1949. Tes ini terdiri atas dua bentuk yaitu berbentuk verbal dijawab dengan bahasa, tulis dan lisan, dan tes perbuatan berisi tugas-tugas yang harus dikerjakan, seperti menyusun balok, menyusun guntingan gambar, dll.

4.             Tes Progressive Matrices (PM), Ada yang berwarna, yaitu untuk anak kecil (s.d 10 tahun) dan tidak berwarna untuk anak besar (11 s.d 14 tahun). Untuk dewasa juga disediakan Advance Progressive Matrices atau APM.
Sebaran penduduk menurut kategori kecerdasannya:

IQ
Kategori
Persentase
140 – ke atas
130 – 139
120 – 129
110 – 119
90 – 109
80 – 89
70 – 79
50 – 69
25 – 49
Di bawah 25
Genius
Sangat cerdas
Cerdas
Di atas normal
Normal
Di bawah normal
Bodoh (dull)
Debil (moron)
Imbecil
Idiot
0,25%
0,75%
6%
13%
60%
13%
6%
0,75%
0,20%
0,05%

·                Idiot
Tingkatan ini termasuk kelompok individu terbelakang. Hanya mampu mengucapkan beberapa kata saja. Juga tidak mampu mengurus diri sendiri, makan, minum, berpakaian, dll. Mereka tidak dapat ditugasi sekalipun sangat sederhana. Pada umumnya harus berbaring selama hidup. Badan lemah, rentan terhadap penyakit, tidak mengetahui bahaya. Tidak bisa dididik dan kebanyakan berumur pendek.
·                Embisil
Masih dapat belajar bahasa, bisa mengurus diri sendiri, ditugasi ringan seperti mencuci piring, mengepel lantai. IQ-nya rata-rata = anak normal usia 3-7 tahun (MA = 3-7), tidak bisa sekolah bersama anak-anak normal.
·                Debil
Dapat membaca, menulis, berhitung dalam hitungan-hitungan sederhana. Banyak di sekolah anak-anak normal, di sekolah masyarakat kurang atau belum maju.
·                Bodoh/Dull
Di bawah kelompok normal dan di atas kelompok terbelakang. Agak lambat dalam belajar. Ada yang sulit menuntaskan SLTP, ada yang bisa menyelesaikan SLTP, tapi sulit tuntas SLTA.
·                Normal
Kelompok terbesar presentasenya di masyarakat. MA rata-rata = CA-nya.
·                Pandai
Termasuk kategori high average (di atas normal).
·                Cerdas
Pada tingkatan ini, mereka mampu menyelesaikan pendidikan akademi dan biasanya jadi leader.
·                Sangat Cerdas
Over genius, memecahkan masalah-masalah yang rumit dan sulit.

C.           Cara Cerdas Menyikapi Skor Inteligensi dan IQ
Skor IQ seringkali memang memprediksikan prestasi sekolah, meskipun tidak sepenuhnya tepat. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan hubungan antara skor tes IQ dan prestasi sekolah:
1.             Inteligensi tidak niscaya mempegaruhi prestasi, melainkan hanya sekedar berkolerasi. Meskipun siswa yang memiliki skor IQ tinggi biasanya memperlihatkan performa yang baik di sekolah, kita tidak dapat menyimpulkan bahwa prestasi mereka yang tinggi disebabkan karena inteligensinya saja. Inteligensi mungkin memainkan peranan penting terhadap prestasi sekolah, namun banyak faktor lain juga yang terlibat; motivasi, mutu pengajaran, fasilitas dalam keluarga, dukungan orang tua, harapan teman-teman sebaya, dan sebagainya.
2.             Hubungan antara skor-skor IQ dan prestasi tidaklah sempurna, terdapat banyak perkecualian. Karena berbagai alasan, siswa yang skor IQ-nya tinggi tapi tidak memperlihatkan prestasi yang baik di sekolah. Sementara siswa lain memperlihatkan prestasi sekolah yang jauh lebih tinggi dari yang diprediksikan berdasarkan skor IQ-nya saja.
3.             Skor IQ bisa berubah. Skor IQ memprediksikan prestasi sekolah dalam waktu singkat, katakanlah satu atau dua tahun mendatang. Skor IQ kurang berguna untuk waktu jangka panjang, apalagi skor tersebut diperoleh saat masa prasekolah atau sekolah dasar.

Maka dari itu, kita perlu menyikapi hasil test IQ dengan benar, misalnya:
1.             Anggaplah tes-tes inteligensi sebagai suatu bentuk pengukuran berguna namun tidak sempurna. Sebab tes-tes inteligensi juga memiliki keterbatasan seperti, tes yang berbeda memberi skor yang berbeda pula, performa siswa pasti dipengaruhi berbagai faktor yang bersifat sesaat, item-item tes biasanya berfokus pada keterampilan-keterampilan yang penting dalam arus utama budaya barat, khususnya dalam setting sekolah, dan kadangkala siswa tidak terbiasa dengan isi atau jenis tugas dalam tes.
2.             Gunakan pengukuran-pengukuran yang lebih terfokus ketika Anda ingin menilai kemampuan spesifik.
3.             Carilah perilaku-perilaku yang memperlihatkan talenta yang luar biasa dalam konteks budaya siswa.
4.             Ingatlah bahwa terdapat banyak faktor yang juga mempengaruhi prestasi.
5.             Sediakan lingkungan yang dapat mendukung pertumbuhan intelektual dan perilaku inteligen.



D.           Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Inteligensi
1.             Hereditas atau Pembawaan
Salah satu faktor penentu tinggi rendahnya inteligensi seseorang ditentukan oleh sifat-sifat dan ciri-ciri yang dibawa sejak lahir. Pandangan ini dipengaruhi oleh aliran filsafat (nativisme) yang beranggapan bahwa setiap manusia dilahirkan sudah membawa potensi-potensi tertentu yang tidak dapat dipengaruhi lingkungan. Taraf Inteligensi seseorang ialah 75-80% keturunan, juga adanya rangkaian hubungan antara pertalian keluarga dengan ukuran IQ.[16] Dengan demikian, taraf inteligensi relatif sama ditentukan pada individu-individu yang mempunyai pertalian keluarga yang kuat.

2.             Lingkungan
Pemahaman tentang faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya inteligensi ditentukan oleh lingkungan (pendidikan dan pengalaman). dipengaruhi teori empirisme John Locke. Ia berpendapat bahwa manusia dilahirkan dalam kondisi suci (tabularasa).
Lingkungan dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
·               Lingkungan fisik, meliputi segala sesuatu dari molekul yang ada di sekitar janin sebelum lahir
·               Lingkungan sosial, meliputi seluruh manusia yang secara potensial mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perkembangan individu.

Faktor hereditas maupun lingkungan memiliki pengaruh yang relatif sama. Bahkan keduanya dapat disatukan, misalnya saja sesuai dengan teori konvergensi William Stern.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar