PEMBAHASAN
A.
Pengertian dan Konsep Inteligens
Istilah
IQ sendiri merupakan singkatan dari Intelligence Quotient yang berarti indikasi
kecerdasan intelektual, kemampuan menganalisis suatu objek atau logika
seseorang. IQ biasa dipergunakan untuk menjelaskan tingkatan kemampuan otak
kiri seseorang. Sering kali, IQ dijadikan indikator untuk mengukur kemampuan
berfikir, berkomunikais, mengetahui, memahami, menganalisis, menentukan, dan
menjelaskna sesuatu yang dimiliki oleh seseorang. Karena itulah IQ memiliki keterkaitan
dengan keterampilan berbicara, kesadaran akan sesuatu di sekelilingnya,
penguasaan ilmu eksak, atau kemampuan-kemampuan otak kiri lainnya.
Inteligensi berasal dari kata latin “intellegere”
yang berarti menghubungkan atau menyatukan satusama lain, pengertian
inteligensi memberikan bermacam-macam arti bagi para ahli. Inteligensi
merupakan daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan mempergunakan
alat-alat berfikir menurut tujuannya (kamus pedagogic, 1953). Di sini dapat
dilihat bahwa Stren menitik beratkan kepada soal adjustment terhadap masalah
yang dihadapinya.
Orang yang dianggap inteligen bila responnya
merupakan respon yang baik terhadap stimulus yang diterimanya. Untuk memberikan
respon yang tepat, organisme harus memiliki lebih banyak hubungan stimulus dan
respons, dan hal tersebut dapat diperoleh dari hasil pengalaman yang
diperolehnya dan hasil respon-respon yang telah lalu. Penelitian yan dilalukan
oleh psikolog Howard Gardner dan rekan-rekannya di Harvard University telah
menunjukkan bahwa setiap anak memiliki banyak cara berbeda untuk menjadi
pandai, yaitu dengan cara melalui kata-kata, angka, gambar, music, ekspresu
fisik, pengalaman dengan alam, interaksi sosial, dan pemahaman diri sendiri.
Inteligensi
itu sendiri didefinisikan oleh David Wechsler (1958) “keseluruhan kemampuan individu untuk
berfikir dan bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan
secara efektif”. Banyak ahli yang mengemukakan tetang inteligensi, seperti
Binet, Wehster, Terman, Thuston, Plaget dan sebagainya. Masing-masing
mengajukan pemikiran atau konsep yang berbeda. Namun kalau dicermati secara
prinsipnya memiliki kesamaan. Misalknya saja Thornburg (1982) inteligensi
mengandung 4 unsur pengertian yakni:
1.
Kemampuan berfikir abstrak dan cermat.
2.
Kemampuan untuk mengambil suatu keputusan, memahami suatu
masalah, secara menyeluruh, teori yang rumit, serta mengetahui sebab akibat
suatu fenomena yang ditemui dalam kehidupannya.
3.
Kemampuan untuk melakukan penyesuaian diri terhadap
lingkungan hidupnya.
4.
Seluruh kemampuan individu untuk melakukan suatu aktivitas
guna menambangkan potensi dirinya.
Jadi inteligensi memang mengandung
ratio atau unsur pikiran. Makin banyak unsur ratio yang harus digunakan dalam
suatu tindakan atau tingkah laku, makin berinteligensi tingkah laku tersebut.
Macam-macam inteligensi:
1.
Kecerdasan Bahasa
Kecerdasan
liguistik adalah kemampuan mengunakan kata-kata secara efektif. Pengamatan
terhadap 3M (membaca, menulis dan matematika) dalam kehidupan sekolah
memperlihatkan bahwa kecerdasan liguistik mencangkup sedikitnya bahwa
kecerdasan liguistik mencangkup sedikitnya 2/3 bagian dari interaksi
belajar-mengajar, membaca dan menulis termasuk mengeja, kosakata, dan tata
bahasa.
2.
Kecerdasan Logika-matematika
Kemampuan individu untuk berfikir logika dan perhitungan
matemats, yang sefatnya menggunakan kemampuan untuk menangkap, memahami dan
menganalisis suatu masalah perhitungan metematis. kemampuan logika-matematika
yang dimilikinya biasanya lebih menonjol dibandingkan dengan orang lain yang
tidak mampu dalam bidang ini. Misalnya: pemenang nobel dibidang matematika dari
AS Barbara McClintoch.
3.
Kecerdasan Spasial
Kemampuan untuk memahami, menganalisi hal-hal yang berkaitan
dengan ruang 3 dimensi. Dengan kemampuan itu, individu dapat mengatur dan
memecahkan masalah aspek keruangan. Aspek keruangan ini, tidak hanya
berhubungan dengan masalah teknis kearsitekturan, sipil, tetapi juga masalah
media ataupun seni. Orang professional (ahli) yang tergolong memiliki kemampuan
ini diantaranya insinyur, teknik arsitektur, sipil, dokter bedah,
pemotong/penata rambut, pelukis, pemahat/pematung, navigator. B.J Habibie
adalah salah satu tokoh jenius Indonesia yang memiliki kecerdasan Spasial. Ia
adalah lulusan fakultas teknik dari sebuah universitas di Jerman, yang kemudian
menjadi menteri riset dan teknologi, bahkan menjadi presiden Republik Indonesia
yang ke-3.
4.
Kecerdasan Musik
Kemampuan individu untuk memahami, mengerti, mengolah,
mencipta atau mempertunjukkan masalah-masalah yang berhubungan dengan seni
music. Dengan kemampuan ini individu mampu menganalisis kekurangan dan
kelebihan suatu irama lagu, musik, nada, dan sebagainya. Orang-orang yang
memiliki kecerdasan musik ini misalnya kritikus music, pemusik baik tradisional
maupun modern. Hal ini dapat dilihat dari seperti : Mozart, Bethoven, Idu
Marzuki.
5.
Kecerdasan Kinestetik
Kemampuan individu untuk mengenali, memahami, seluruh
bagian-bagian organ tubuh serta mampu untuk mengkspesikan emosi perasaannya
daam bentuk gerakan fisik untuk tujuan seni maupun kegiatan olahraga. Orang
yang memiliki kecerdasan ini akan dapat menonjol prestasinya di bidang
olahraga, seni tari, seni drama. Maka banyak atlet seperti Ade Ray, Susi
Susanti dan masih banyak lagi. Kemampuan kinestesi ini terletak pada kortek
motoric. Kerusakan pada bagian ini menyebabkan indvidu tak mampu melakukan
koordinasi otot maupun organ fisik yang baik.
6.
Kecerdasan Interpesonal
Kemampuan individu yang dicirikan dengan adanya kepekaan
untuk memahami perasaan orang lain, sehingga ia dengan mudah dapat menjalin
relasi degan lingkungan sosialnya. Individu yang memiliki kecerdasan secara
interpersonal dapat menekuni dibidang siar agama, guru/dosen, presenter, dan
sebagainya. Kemampuan ini bersumber pada lobus frontal. Kerusakan di bagian ini
dapat menyebabkan individu mengalami perubahan kepribadiannya, seperti
ketidakmampuan untuk bergaul, menyendiri atau menarik diri dari pergaulan.
7.
Kecerdasan Intrapersonal
Kemampuan memahami diri sendiri, kecedasan mengetahui apa
kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Ini juga merupakan kecerdasan untuk bisa
merenungkan tujuan hidup sendiri dan untuk mempercayai diri sendiri. Kecerdasan
intrapersonal adalah kecerdasan yang penting bagi wirausaha dan individu
independen lain yang harus memiliki persyaratan disiplin diri, keyakinan dan
pengetahuan diri untuk bisa memasuki bidang atau bisnis baru.
8.
Kecerdasan Naturalis
Melibatkan kemampuan mengenai bentuk alam sekitar kita;
burung, bunga, hewan, dan fauna serta flora lain. Ini juga mencangkup terhadap
bentuk aam lain, seperti susunan awan dan ciri geologis bumi. Kecerdasan ini
dibutuhkan dalam banyak profesi termasuk ahli biologi, penjaga hutan, dokter
hewan, dan hortikulturis. Dalam kehidupan sehari-hari kita menggunakan
kecerdasan ini ketika berkebun, dan berkemah.
Menurut arah/hasilnya, kepemilikan
individu terhadap kecerdasan dapat dibedakan menjadi dua:
·
Inteligensi Praktis yaitu inteligensi untuk bisa mengatasi
situasi sulit dalam suatu kerja yang berlangsung secara cepat dan tepat.
Contoh: anak yang naik sepeda di jalan yang ramai, ini memerlukan inteligensi
praktis.
·
Inteligensi Teoritis yaitu inteligensi untuk bisa mendapatkan suatu pikiran
penyelesaian masalah yang berlangsung secara cepat dan tepat. Ini berlaku dalam
ilmu pengetahuan seperti ilmu alam, sosial dan teknologi.
B.
Cara Mengukur Inteligensi
Untuk
menyelidiki sifat, luas dan batas inteligensi seseorang digunakan “tes
inteligensi”. Pengukuran kecerdasan (IQ) lebih diarahkan kepada mengukur
kecakapan berbuat, kecakapan melakukan proses, atau kecakapan dasar yang
diperlukan sebagai dasar penguasaan materi atau pengetahuan. Pengukuran
kecakapan nyata atau achievement lebih diarahkan kepada
mengatur penguasaan pengetahuan atau materi. Pengukuran kecerdasan diusahakan
benar-benar mengukur kecakapan dasar, bukan hasil belajar, bebas dari pengaruh
pengalaman atau kebudayaan. Integritas Quotient atau IQ ialah angka yang mana
menjelaskan tingkat kecerdasan seseorang yang dibandingkan dengan sesamanya
dalam satu populasi. Definisi asli dari IQ itu sendiri adalah mengukur
kecerdasan dari anak-anak. IQ adalah sebuah rasio dari umur secara mental
dibagi umir secara fisik dan dikalikan dengan angka 100. Umur secara mental
dihitung berdasarkan dasar dari rata-rata hasil di dalam sebuah tes yang dibagi
dalam setiap kategori umur.
Ada
beberapa jenis tes yang bisa digunakan untuk mengukur IQ, antara lain:
1.
Pengukuran Test
Inteligensi Secara Umum. Dalam hal ini mengalami beberapa Fase, antara
lain:
a.
Fase persiapan, hal ini terjadi ± sampai tahun 1915. Pada
saat itu para ahli sedang berusaha untuk mendapatkan model atau bentuk yang
akan digunakan untuk test inteligensi, dan usaha yang diperolehnya baru
bersifat konsep. Karena itu, (konsep) belum dapat diaplikasikan ketika akan
melakukan test inteligensi.
b.
Fase naif, atau pengguna test inteligensi yang sudah
tersusun tanpa adanya kritikan. Fase ini terjadi ± tahun 1915 hingga ± tahun
1935, di mana para ahli berupaya untuk menggunakan hasil rancangan test
inteligensi yang sudah tersusun dalam berbagai hal kehidupan, sesuai dengan
lingkup yang akan dibahas dalam test tersebut. Hasil test bisa digunakan
sebagai pra syarat pemilihan calong pegawai, calon militer atau calon
petugas/karyawan lainnya, dan calon-calon siswa yang akan masuk sekolah ke
jenjang berikutnya.
c.
Fase yang bebas dari pengaruh kebudayaan melalui bahasa,
fase ini diprakarsai oleh Goodenough dan Porteus.
d.
Fase kritis atau masa sekarang, terjadi sejak tahun 1950
hingga sekarang.
2.
Tes Inteligensi Binet Tes kecerdasan ini adalah yang tertua. Disusun tahun 1905
oleh Alfred Binet, ahli psikologis Prancis. Tes Binet diperuntukkan bagi anak
usia 2-15 tahun.
Rounded Rectange : IQ = MA/CA X 100
Keterangan:
a.
IQ : intelligence quotient atau kecerdasan
b.
MA : mental age atau usia mental. Diperoleh
dari sekelompok pertanyaan yang dijawab betul oleh sejumlah besar individu
dengan umur yang sama.
c.
CA : chronological age atau usia kalender
d.
100 : konstanta atau bilangan tetap, diusulkan oleh Stern
dan Terman untuk menghindari angka pecahan dalam satuan IQ
Misal, seorang anak berusia 6 tahun
diajukan 5 pertanyaan. Jika dijawab semua, lalu diajukan pertanyaan di atasnya
(6, 7, 8, 9 tahun, dan seterusnya) sampai tidak ada lagi yang bisa terjawab.
Tapi jika pertanyaan pertama ada yang salah, diajukan pertanyaan di bawahnya
(5, 4 tahun) sampai bisa dijawab semua. Bila jawaban benar diberi tanda
(● ) dan (X) bila salah.
|
Umur CA
|
Jawaban
|
Nilai MA
|
|||||
|
6
tahun
|
●
|
●
|
●
|
●
|
●
|
●
|
6
|
|
7
tahun
|
●
|
X
|
●
|
●
|
●
|
|
|
|
8
tahun
|
●
|
●
|
X
|
X
|
X
|
|
|
|
9
tahun
|
X
|
X
|
●
|
X
|
X
|
|
|
|
10
tahun
|
X
|
X
|
X
|
X
|
X
|
-
|
|
|
Jumlah
|
|
||||||
Maka, MA-nya = 7
CA = 6
Jadi, IQ = 7/6 x 100 =
± 123
3.
Wechsler, Tes pertama disusun tahun 1939 dan diberi nama Wechsler
Belleveu Intelligence Scale disingkat WBIS, dan direvisi tahun 1955 dengan nama
Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS). Tes ini diperuntukkan untuk dewasa.
Untuk anak-anak, Wechsler juga mengembangkan tes sejenis yang diberi nama
Wechsler Intelligence Scale for Children atau WISC, diterbitkan tahun 1949. Tes
ini terdiri atas dua bentuk yaitu berbentuk verbal dijawab dengan bahasa, tulis
dan lisan, dan tes perbuatan berisi tugas-tugas yang harus dikerjakan, seperti
menyusun balok, menyusun guntingan gambar, dll.
4.
Tes Progressive Matrices (PM), Ada yang berwarna, yaitu untuk anak
kecil (s.d 10 tahun) dan tidak berwarna untuk anak besar (11 s.d 14 tahun).
Untuk dewasa juga disediakan Advance Progressive Matrices atau
APM.
Sebaran
penduduk menurut kategori kecerdasannya:
|
IQ
|
Kategori
|
Persentase
|
|
140
– ke atas
130
– 139
120
– 129
110
– 119
90
– 109
80
– 89
70
– 79
50
– 69
25
– 49
Di
bawah 25
|
Genius
Sangat
cerdas
Cerdas
Di
atas normal
Normal
Di
bawah normal
Bodoh
(dull)
Debil
(moron)
Imbecil
Idiot
|
0,25%
0,75%
6%
13%
60%
13%
6%
0,75%
0,20%
0,05%
|
·
Idiot
Tingkatan
ini termasuk kelompok individu terbelakang. Hanya mampu mengucapkan beberapa
kata saja. Juga tidak mampu mengurus diri sendiri, makan, minum, berpakaian,
dll. Mereka tidak dapat ditugasi sekalipun sangat sederhana. Pada umumnya harus
berbaring selama hidup. Badan lemah, rentan terhadap penyakit, tidak mengetahui
bahaya. Tidak bisa dididik dan kebanyakan berumur pendek.
·
Embisil
Masih
dapat belajar bahasa, bisa mengurus diri sendiri, ditugasi ringan seperti
mencuci piring, mengepel lantai. IQ-nya rata-rata = anak normal usia 3-7 tahun
(MA = 3-7), tidak bisa sekolah bersama anak-anak normal.
·
Debil
Dapat
membaca, menulis, berhitung dalam hitungan-hitungan sederhana. Banyak di
sekolah anak-anak normal, di sekolah masyarakat kurang atau belum maju.
·
Bodoh/Dull
Di
bawah kelompok normal dan di atas kelompok terbelakang. Agak lambat dalam
belajar. Ada yang sulit menuntaskan SLTP, ada yang bisa menyelesaikan SLTP,
tapi sulit tuntas SLTA.
·
Normal
Kelompok
terbesar presentasenya di masyarakat. MA rata-rata = CA-nya.
·
Pandai
Termasuk
kategori high average (di atas normal).
·
Cerdas
Pada
tingkatan ini, mereka mampu menyelesaikan pendidikan akademi dan biasanya
jadi leader.
·
Sangat Cerdas
Over
genius, memecahkan masalah-masalah yang rumit dan sulit.
C.
Cara Cerdas Menyikapi Skor Inteligensi dan IQ
Skor
IQ seringkali memang memprediksikan prestasi sekolah, meskipun
tidak sepenuhnya tepat. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan
hubungan antara skor tes IQ dan prestasi sekolah:
1.
Inteligensi tidak niscaya mempegaruhi prestasi, melainkan
hanya sekedar berkolerasi. Meskipun siswa yang memiliki skor IQ tinggi biasanya
memperlihatkan performa yang baik di sekolah, kita tidak dapat menyimpulkan
bahwa prestasi mereka yang tinggi disebabkan karena inteligensinya saja.
Inteligensi mungkin memainkan peranan penting terhadap prestasi sekolah, namun
banyak faktor lain juga yang terlibat; motivasi, mutu pengajaran, fasilitas
dalam keluarga, dukungan orang tua, harapan teman-teman sebaya, dan sebagainya.
2.
Hubungan antara skor-skor IQ dan prestasi tidaklah sempurna,
terdapat banyak perkecualian. Karena berbagai alasan, siswa yang skor IQ-nya
tinggi tapi tidak memperlihatkan prestasi yang baik di sekolah. Sementara siswa
lain memperlihatkan prestasi sekolah yang jauh lebih tinggi dari yang
diprediksikan berdasarkan skor IQ-nya saja.
3.
Skor IQ bisa berubah. Skor IQ memprediksikan prestasi
sekolah dalam waktu singkat, katakanlah satu atau dua tahun mendatang. Skor IQ
kurang berguna untuk waktu jangka panjang, apalagi skor tersebut diperoleh saat
masa prasekolah atau sekolah dasar.
Maka dari itu, kita perlu menyikapi
hasil test IQ dengan benar, misalnya:
1.
Anggaplah tes-tes inteligensi sebagai suatu bentuk
pengukuran berguna namun tidak sempurna. Sebab tes-tes inteligensi juga
memiliki keterbatasan seperti, tes yang berbeda memberi skor yang berbeda pula,
performa siswa pasti dipengaruhi berbagai faktor yang bersifat sesaat,
item-item tes biasanya berfokus pada keterampilan-keterampilan yang penting
dalam arus utama budaya barat, khususnya dalam setting sekolah,
dan kadangkala siswa tidak terbiasa dengan isi atau jenis tugas dalam tes.
2.
Gunakan pengukuran-pengukuran yang lebih terfokus ketika
Anda ingin menilai kemampuan spesifik.
3.
Carilah perilaku-perilaku yang memperlihatkan talenta yang
luar biasa dalam konteks budaya siswa.
4.
Ingatlah bahwa terdapat banyak faktor yang juga mempengaruhi
prestasi.
5.
Sediakan lingkungan yang dapat mendukung pertumbuhan
intelektual dan perilaku inteligen.
D.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Inteligensi
1.
Hereditas atau Pembawaan
Salah
satu faktor penentu tinggi rendahnya inteligensi seseorang ditentukan oleh
sifat-sifat dan ciri-ciri yang dibawa sejak lahir. Pandangan ini dipengaruhi
oleh aliran filsafat (nativisme) yang beranggapan bahwa setiap manusia
dilahirkan sudah membawa potensi-potensi tertentu yang tidak dapat dipengaruhi
lingkungan. Taraf Inteligensi seseorang ialah 75-80% keturunan, juga adanya
rangkaian hubungan antara pertalian keluarga dengan ukuran IQ.[16] Dengan demikian, taraf inteligensi
relatif sama ditentukan pada individu-individu yang mempunyai pertalian
keluarga yang kuat.
2.
Lingkungan
Pemahaman
tentang faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya inteligensi ditentukan oleh
lingkungan (pendidikan dan pengalaman). dipengaruhi teori empirisme John Locke. Ia berpendapat bahwa manusia dilahirkan dalam
kondisi suci (tabularasa).
Lingkungan
dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
·
Lingkungan fisik, meliputi segala sesuatu dari molekul yang
ada di sekitar janin sebelum lahir
·
Lingkungan sosial, meliputi seluruh manusia yang secara
potensial mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perkembangan individu.
Faktor hereditas maupun lingkungan
memiliki pengaruh yang relatif sama. Bahkan keduanya dapat disatukan, misalnya
saja sesuai dengan teori konvergensi William Stern.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar